Rabu, 05 Januari 2022

the a letter

 We hurt each other even in silent. We don’t need to say the words, our eyes were filled with pain already. Maybe it was love. Maybe it was lust. And maybe what hurt the most was the high expectation. The way we hurt each other just to show how we loved each other was tiring, wasn’t it? Memories fade as time goes by or gone, just like that, with no trace. But we always remember how it hurt.  You hurt me.


I wanted to say ‘please stay’ but the words froze in my brain, leave me wondering: what did we do wrong? Maybe you will never know that… I’m falling endlessly. I’m falling hopelessly. You’re not there to catch me.

When you hugged me, it felt like I’ll always be alright. Now that you left, it feels like nothing will ever be okay. For example, I can never listen to Michael Buble anymore. His Home hurts too much since you’re not the home anymore. And you know what? I am never alone. Not when the thoughts of you always haunting me. I am never alone, but I am lonely. If only the ‘i love you’ is enough, we wouldn’t have to fear the night. Darkness is scary when you’re lonely.

Sometimes, many times late at night, these thoughts crossed my mind, that our love was like the burning cigarette. It didn’t last that long, and filled with poison. I’m addicted to it. And when I said I’m addicted to you, it means I’m addicted to love and the pain it brings. Even the falling leaf reminds me of us. We are that leaf. Fragile and falling hopelessly, inevitable.

And so I tried to runaway. But every road and street i ran to, always bring me back to the thought of you. I travel to forget us. But every city I go, I can only imagine sharing the view with you, while holding your hand. Every street, every road remind me of you. I hide inside my heart, and you’re there too.

Why didn’t you bring your love along when you left? Why did you have to leave it here and bleed me dry? No. That’s wrong. We bleed each other dry. We made each other cry. We were two fools in love. How I hope we still are. And maybe you already know this: Before you, healing a broken heart was as easy as one two three.

If only i can read your mind, maybe i could make you stay. The only question ringing in my mind right now is: why do we hurt the one we care the most? No one has the answer.

Can we turn back the time? I want to freeze the moment you’re smiling at me. Or if i run to the wall and hit my head really hard, will it stop the pain of missing you? Look how pathetic I am now. I am crying. No, I’m not crying because I miss you so. I’m crying because i secretly hope the tears will wash away the pain.

Selasa, 15 November 2016

...

apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? aku tahu.

rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup, dan tiba-tiba saja aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.

hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil.
suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi.

ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling ku butuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh ku dapatkan.

kata-kataku mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya.
tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

satu-satunya yang bisa ku lakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya.
aku tidak akan melupakan dirinya, tapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku untuk mencoba melakukannya.

pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang ku rasakan tiap kali aku melihatnya.
mungkin suatu hari nanti, aku tak tahu kapan, rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kita akan bertemu kembali.

sekarang, saat ini saja..untuk beberapa detik saja..
aku ingin bersikap egois.
aku ingin melupakan semua orang
mengabaikan dunia
dan melupakan asal usul serta latar belakangku.

tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan aku ingin mengaku
aku mencintainya.


..

pada saat yang sama, terkadang aku tidak dapat menahan untuk melihat kebelakang.
aku tidak dapat berhenti untuk bertanya pada diri sendiri : apakah salah untuk mencintainya?
aku tidak tahu. namun hal itu terjadi, dan aku tidak dapat mengubahnya.
aku hanya dapat mengenangnya, memahami bahwa itu tidak ditakdirkan untuk terjadi...dan mencoba untuk belajar darinya.

beberapa hubungan, tidak peduli betapa nyata atau penting, adalah terlalu ekstrim, terlalu berbahaya, terlalu melelahkan untuk dipertahankan.

terkadang, diluar keinginanku, aku masih memimpikan dirinya.
kadang merasakan kehadirannya dikeramaian.
aku tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa dia masih ada..

namun aku percaya satu hal: bahwa takdir apapun yang kumiliki, hidupku memang dimaksudkan  untuk satu tujuan, hingga dirinya muncul.
tujuanku kemudian berubah secara radikal dan mengagumkan.
dan sekarang, setelah dia pergi, tujuanku berubah kembali.

jika siang dan malam dapat berputar kembali, aku masih yakin bahwa kita ditakdirkan untuk bertemu dan saling mencintai, juga merasakan luka dari kekecewaan yang dalam.

aku akan selalu mencintainya, aku tidak akan melupakan dirinya.
hidupku dipenuhi kebahagiaan tak terbatas karena aku mengenalnya, dan karena dia membiarkanku pergi.

hidupku kini milikku, dan aku tahu sebaiknya memang begini.


Rabu, 14 Mei 2014

Ksatria, Puteri, & Bintang Jatuh

Kesatria jatuh cinta pada putri bungsu dari kerajaan bidadari.
Sang putri naik ke langit.
Kesatria kebingungan.
Kesatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Kesatria keluar dari kastel untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi,kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Kesatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Kesatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Kesatria sedih, tapi tak putus asa.
Kesatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun, sang putri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Kesatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai suatu malam,ada bintang jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari kesatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun, kalau kesatria tak mampu mendarat tepat di putrinya, ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan, menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Kesatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada bintang jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan, ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang mematikan.
Bintang jatuh menggenggam tangannya. "Inilah perjalanan sebuah cinta sejati," ia berbisik, "tutuplah matamu,ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya."
Melesatlah mereka berdua. Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati kesatria mungil, tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan,ia merasakannya. "Berhenti!"
Bintang jatuh melongok ke bawah, dan ia pun melihat sesosok putri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan gugus orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu. Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Kesatria melesat menuju kehancuran.
Sementara sang bintang mendarat turun untuk dapatkan sang putri.
Kesatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati kesatria.

Kamis, 22 Agustus 2013

semoga tidak kamu lagi

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia..
Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu..

 Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar.
Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk, supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan, sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.

Namun ketahuilah , sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu, ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu , mengelilingi tubuhku dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku.

Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, itu karena aku mampu terima kamu apa adanya.

Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi.
Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin.

Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya.
Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.